Rabu, 09 April 2008

Cita-cita


Saya punya sahabat.
Kami selalu satu sekolah mulai dari TK sampai SMA.

Saya selalu merasa cocok dengannya.

Tapi ketika menamatkan SMA, kami memilih jalur yang berbeda. Saya meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dia menjadi perwira polisi.

Ini merupakan cita-citanya sejak masih kecil.
Sejak TK.

Saya jadi ingat kisah kami waktu masih kanak-kanak dulu.

Suatu saat ibu guru menanyakan apa cita-cita kami jika besar nanti.

Saya menjawab jadi dokter.
Jawaban standar anak kecil.

Sedangkan teman saya menjawab polisi.

Right... Nggak ada masalah sampai disitu.
Naik ke Sekolah Dasar, kami kembali ditanyakan mengenai cita-cita ini.
Saya menjawab jadi pengacara.
Nggak konsisten.

Sahabat saya tetap dengan cita-cita lamanya.

Masalah baru akan dimulai.

Menginjak SMP, guru Bahasa Indonesia kembali menanyakan hal ini.

Saya menjawab ingin menjadi wartawan.

Ketika itu saya sedang giat-giatnya mengurusi majalah dinding sekolah.

Sahabat saya ini tetap konsisten dengan pilihannya sejak masih kanak-kanak.
Ketika SMA dan ijazah kelulusan sudah ditangan,
kami saling bertanya, akan jadi apa kami nantinya.
Saya menjawab, ingin menjadi akuntan yang sekarang membawa saya kuliah di fakultas ekonomi.

Sahabat saya memilih mengikuti tes seleksi perwira polisi nasional.

Ajaibnya, sahabat saya ini adalah peserta wanita satu-satunya yang lolos mewakili daerah saya.
Sementara saya sudah sangat pusing dengan kuliah saya yang saya rasa sangat berat, sahabat saya itu sangat enjoy menjalani pilihannya.
Saya kagum kepada sahabat saya sendiri.

Apakah ke-kosistensiannya yang membawa di berhasil meraih cita-citanya?

Saya pernah membaca artikel di sebuah majalah.

Memang ada penelitian yang menjawab pertanyaan saya itu.
76% orang yang bercita-cita konsisten seperti sahabat saya, akan memperoleh keberhasilan.
Saya menyesal, mengapa sejak dulu saya tidak konsisten menjawab pertanyaan-pertanyaan guru saya.
Jika saja saya dulu bercita-cita jadi presiden dan sampai sekarang tetap konsisten, bukan tidak mungkin saya akan menduduki posisi tersebut di tahun 2040-an nanti.

Who knows?

1 komentar:

Anonim mengatakan...

saya lebih parah daripada anda.saya sama sekali tidak punya cita-cita dan itu membuat sama tidak memiliki tujuan hidup sekarang.

Story, Reading, Writing And All About Jurnalism