
Setiap kali akan ke kampus, saya pasti melewati jembatan penyeberangan, sebut saja jembatan penyeberangan X.
Banyak sekali aktivitas yang terjadi disana.
Mulai dari hanya sekedar numpang lewat sampat transaksi jual beli.
Disana banyak juga pengemis.
Mulai dari yang sudah uzur, usia dewasa hingga anak kecil.
Dari yang sehat walafiat, pura-pura sakit hingga benar-benar sakit, semua tumpah ruah disana. Itu wajar untuk saya.
Dikota sebesar Jakarta, pengemis adalah sebuah profesi.
Tak heran jika banyak orang terkena virus M.
Malas...
Dengan modal tampang memelas dan penampilan kucel, mereka bisa mendapatkan uang hingga puluhan ribu sehari.
Sebenarnya mereka masih cukup kuat untuk mendapatkan uang dengan cara yang wajar.
Tanpa harus menadahkan tangan kepada orang lain.
It's the real in our beloved country.
atau mungkin saking sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia,
dan keterbatasan pengalaman kerja, mereka memilih bekerja sebagai peminta-minta.
Diantara sekian banyak pengemis itu, ada seorang ibu muda.
Usianya sekitar 20-an tahun.
Diusia seperti seharusnya masih sangat produktif dalam mencari nafkah.
Kondisi fisiknya masih sangat kuat, terlihat dari badannya yang cukup subur untuk ukuran seorang pengemis.
Sambil menengadahkan tangan kiri dan tangan kanannya memegang bayinya, ia meminta uang receh dari orang-orang yang hilir mudik di jembatan itu.
Oke, saya tidak mau ambil pusing dengan si ibu.
Yang menjadi fokus saya adalah si anak.
Si anak masih sangat kecil.
Umurnya masih dalam hitungan hari.
Kulitnya masih merah.
Anak ini menjadi sarana sang ibu untuk mendapatkan uang.
Si anak kepanasan.
Mukanya memerah.
Si anak menghirup udara beracun kota Jakarta.
Sungguh sangat miris sekali.
Ini adalah salah satu bentuk eksploitasi anak.
Yah... saya hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa berbuat banyak.
Saya hanya bisa memberikan sedikit dari yang saya punya.
Bukan untuk si ibu, tapi untuk anaknya.
Rabu, 09 April 2008
eksploitasi anak
Label:
curhat saya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Story, Reading, Writing And All About Jurnalism

Tidak ada komentar:
Posting Komentar