Tampilkan postingan dengan label curhat saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat saya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2008

Kamu suka gitu deh...


Entah kenapa,,, kalo liat Mbak Dewi Persik, bawaannya sebel aja.
Menurut saya, dia merendahkan martabatnya sendiri sebagai seorang wanita.

Suka pake pakian yang terlalu terbuka,,, (Baidewei, apa nggak masuk angin tuh, Mbak =p)
Suka goyang2 ga jelas,,, (kata orang2 erotis)

Suka ngomong ngasal,,, (emang bener sih, ngomong kok kayak nggak dipikirin gitu)

Mungkin ada beberapa orang yang suka atau sampai ngefans sama Mbak Dewi,,,

Saya ngerti kok apa alasannya,,, (She so hot, right?)

Tapi fitrahnya sebagai wanita,
kita nggak boleh ngumbar aurat (walaupun saya sendiri belum memakai jilbab, sebisa mungkin saya berpakaian yang sopan, memakai jilbab bukan hanya soal menutup aurat saja, tapi sebisa mungkin menahan segala perilaku dan perkataan),,,
siapa yang mau menghargai diri kita kalau kita sendiri tidak mau belajar bersikap sopan terhadap orang lain???


Padahal waktu saya liat mbak Dewi baru pulang umroh,
pakai jilbab,
aduh anggun dan cantik banget,,,
Saya lebih senang Mbak Dewi yang seperti itu,
tutur bicaranya lembut sekali.

Mengenai masalah pencekalan terhadap Mbak Dewi Persik,
saya rasa sah-sah saja jika setiap pemimpin daerah melakukannya.

Beliau-beliau itu pasti ingin membuat daerah yang dipimpinnya jauh dari kejahatan.
Sekali lagi maaf untuk Mbak Dewi Persik atau penggemarnya kalau perkataan saya terlalu menyinggung perasaan anda.

Bukankah ini negara hukum?

Setiap orang bebas mengemukakan pendapatnya asal tidak kebablasan.


Goyangan di setiap jenis musik pun begitu juga menurut saya,

dalam musik pop, setiap penyanyinya bergoyang

jazz juga,
rock apalagi,

keroncong sami mawon,

terlebih dangdut.

Itu semua memperindah audionya...


Asal jangan kebablasan,
sampe tidur-tiduran,
menggeliat-geliat di tiang,

atau sampai melorot kembennya...


Aduh...
mau dikemanakan moral bangsa kita ini,,,?
putar channel ini sudah dicengkoki dengan goyangan-goyangan seperti itu...

putar channel itu malahan ada anak SD udah pacar-pacaran
Mudah-mudahan semua mengerti,,,

hidup bukan hanya sekedar untuk mencari uang,,,

tapi juga bagaimana mempertanggungjawabkannya kepada orang disekitar kita,,,


jangan menganut ajaran

"yang penting gue hepi, elo emang gue pikirin"


Ya begitulah curhat saya hari ini...
semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang ada disekitar kita...


Salam hangat...

Selasa, 15 April 2008

Mother wanna be



ngeliat bayi selucu ini,
feel mother wanna be nggak seh??
saya jadi inget sepupu saya yang baru lahir...
Dia sepupu saya yang paling kecil.
he's so cute baby.
Baru ngeliat fotonya aja saya udah seneng buangettt
Sayangnya dia jauh, ada dikampung halaman saya.
I wanna see him very muucchhhh....

Kenapa ya kalo ngeliat bayi,
jadi lupa deh ama masalah yang ada,
tugas yang numpuk,
UTS yang bentar lagi,
dosen yang ngomel-ngomel mulu',


Ahh...
I don't carelah...
I wanna see my little cousin,,,
Miss u, Aufa, my little prince

Senin, 14 April 2008

What they think about Cinta Laura??


Kemaren pas lagi ngumpul bareng sahabat saya...
tiba-tiba ada yang nyeletuk

Mana ujyan,,,

Gak ada ojyek,,,

Becyek,,,

Otomatis otak saya langsung mengkonekkan diri pada salah satu artis remaja yang sedang mapan saat ini,,,

CINTA LAURA


Trus iseng-iseng saya menyanyakan pendapat para sahabat saya about Cinta Laura Khiel,
dan dapat saya laporkan sebagai berikut:

A: Cintra Laura?? Sahabatnya Poppy Flower??? Yang punya apartment di Bali itu??
Yang nggak punya boyfriend tapi punya boy-friend??? I don't care about her...
(Catatan: cara ngomongnya harus kaya' Cinta Laura, ya...)

B: Very beautiful person,,, but masih sodaraan ma ikan pari, abis mulutnya monyong
sih...

C: Gue suka gaya lo, tapi benerin dulu tuh bahasa Indonesia. Banyak-banyak bergaul
dong sama Chelsea Olivia yang kaga' bisa speak english very well, jadi saling
melengkapi kekurangan masing-masing.

D: Oh Baby... Pantesan suka ma tengkorak, badannya aja kaya' tengkorak.
(Upsss... sorry Cinta, it's just what people thinkin' about you).

E: Ga Penting...

F: Cocok tuh ma si Miller, sama aneh cara ngomongnya.

G: Banyak kok yang masih keturunan bule, tapi ngomongnya ga gitu-gitu amat.

H: Belajar dong sama Mas Wahyu Suparno Putro, walaupun bule asli tapi bahasa
Indonesianya TOP-bangeddd.

Ya begitulah, dari lima orang yang saya wawancarai, hampir semuanya mempunyai pendapat yang sama (anda bisa menganalisis sendiri dari kata-kata mereka)...

Bagi saya,
saya hanya cukup berkomentar:

"Walaupun ujyan, gak ada ojyek, becyek, Cinta Laura tetep manusia biasa."

Bicara tentang karunia

Selamat Pagi semua...

Senang ya hari ini kita masih bisa menikmati cahaya matahari dan udara pagi yang segar...

Rasanya banyak sekali karunia dari Allah yang sudah diberikan untuk kita, manusia.

Kebanyakan dari kita berpikir, karunia Tuhan adalah sesuatu yang dapat membuat kita bahagia, misalnya dilahirkan dari keluarga kaya, tubuh yang indah, wajah yang rupawan, pacar yang ganteng/cantik,,,

Ada beberapa orang yang dilahirkan tidak dengan kondisi seperti itu menganggap bahwa Allah sama sekali tidak sayang kepadanya, bahkan ada yang sampai menghujat Tuhan yang merupakan pencipta kita manusia dan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini. Pantaskah kita menghujat-Nya ketika begitu banyak berkah yang sudah dilimpahkan kepada kita???

Saya pribadi pernah merasa Tuhan itu sangat tidak adil,,,
Setiap orang pasti pernah merasakan hal seperti ini, menurut saja itu adalah sebuah hal yang wajar.
Itu merupakan proses dari sebuah kedewasaan,,
Kematangan nilai Ketuhanan.

Ketika itu saya melihat seseorang yang lebih daripada saya.
Sahabat saya sendiri,,,

Agar memudahkan saya menceritakannya kepada anda, sebut saja namanya Beauty,,,

Beauty ini seperti namanya,, cantik, tubuhnya indah, punya harta benda yang diinginkan setiap orang, pacar tampan, pengetian, singkat kata surga dunia ada ditangannya.
Tapi itulah piciknya manusia...
Saya hanya menilai seseorang hanya dari tampak luarnya saja.
Saya mengambil sebuah kesimpulan hanya dari kulit luarnya saja,,
Ternyata dengan segala kelebihan yang dimilikinya, sebagai manusia biasa dia juga memiliki kekurangan.

Dia lahir dari sebuah keluarga broken home.
Orang tuanya bercerai ketika usianya baru 4 tahun.

Sejak kecil, Beauty tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua secara utuh.
Ayahnya sibuk bekerja di luar kota,
sedangkan ibunya menikah lagi dan sibuk dengan keluarga barunya,,
Karena alasan tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya, sejak duduk di kelas 1 SMP ia lebih memilih tinggal sendiri dirumah pemberian ayahnya bersama seorang pembantu.

Awalnya teman saya ini senang dengan alasan tidak ada orang yang mengekangnya jika ingin melakukan sesuatu. Ia bebas ingin melakukan apa saja tanpa ada yang dapat memberinya nasehat jika melakukan sebuah kesalahan.

Beauty tumbuh menjadi seorang anak yang bebas,,,

Ketika menginjak bangku kelas 2 SMA, secara terpaksa Beauty harus diberhentikan dari sekolah. Hal ini disebabkan karena ia sudah hamil 2 bulan...
Hidup dan masa depannya hancur karena hal ini...

Ketika itu saya merasa sangat beruntung dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang bahagia. Ibu bapak saya memberikan perhatian yang utuh kepada saya dan kedua adik saya. Kami sama sekali tidak pernah merasa ditelantarkan oleh ibu dan bapak.

Menyadari sudah pernah melakukan sebuah dosa besar, yaitu tidak bersyukur, saya langsung betobat kepada Allah.
Saya khilaf,,,
Saya baru menyadari sudah begitu banyak karunia yang Allah berikan kepada saya,
Saya dilahirkan dengan tubuh yang sempurna, tidak kurang satu apapun
Orang tua yang begitu menyayangi saya,
teman-teman yang perhatian,
Saya tidak perlu bekerja keras seperti anak-anak yang orang kurang beruntung
Tubuh saya sehat...

Mulai dari sekarang,
saya ingin sekali membuat orang disekitar saya menyadari kebaikan Allah kepada kita.
Jangan sampai kita tidak bersyukur setelah semua yang sudah diberikan-NYa.
Ingatlah, Allah akan menambah nikmat untuk kita sebagai manusia ketika kita mensyukuri semua yang sudah ada.

Sabtu, 12 April 2008

Kecanduan

Akhir-akhir ini saya jadi kecanduan.
Jangan berpikir yang macem-macem.
Saya cuma kecanduan game online, kok, bukan kecanduan narkoba dan keluarganya.
Kalo udah berhadapan dengan game online, saya bisa betah berjam-jam di depan komputer.
Bahkan sampai jam 1 pagi.
Saya biasa bermain game yang berhubungan dengan fashion.
Saya bisa mendandani dan memilihkan si model baju dan make up terbaik.
Pilih baju ini, pakai make up warna itu.
Efeknya positifnya, saya jadi lebih mengerti tentang padu padan baju dan make up yang pantas.
Efek negatifnya?
Yang saya rasakan lebih banyak daripada efek positifnya.
Jadwal tidur saya jadi tidak teratur.
Biasa saya biasa tidur jam 9 malam, sekarang saya harus tidur jam 1.
Saya jadi malas dalam melakukan sesuatu.
Fokus saya hanya ke game online itu saja.
Efek negatif ketiga, saya jadi boros listrik, padahal saya sudah berniat ingin mengurangi dampak global warming.
Saja merasa jadi orang yang tidak konsisten dengan kata-kata sendiri.
Seharusnya saya lebih bisa memilih skala prioritas.
Memang game online bisa membuat saya melupakan sejenak rutinitas dan kesibukan kuliah saya.
Tapi di sisi lain saya lebih banyak merasakan efek negatif daripada efek positifnya.
Bukankan hal ini tidak efisien?
Mungkin mulai malam ini saya harus lebih bisa mengatur kehidupan saya.
Memakai internet dengan cara yang lebih bermanfaat.
Bukankah hidup kita tidak hanya sekedar di depan komputer?
Bukankah kehidupan sosial juga penting dibandingkan dengan game online

Jumat, 11 April 2008

Cuaca VS Global Warming


Beberapa ini cuaca kota Jakarta jadi aneh.
Jam 10 pagi panasnya kayak jam 12 siang.
Jam 4 sore panasnya kayak jam 12 siang juga.

Sore sekitar jam 5, udah mulai ujan.

Mau keluar sebentar aja, panasnya minta ampun.

Mau pakai payung dengan maksud biar nggak terlalu panas, takut dikira orang gila.

Hujan enggak, kok pake payung.

Nanti dikira ojek payung ngarepin hujan.

Teman saya yang tinggal di daerah Cinere juga mengeluhkan tentang masalah ini kepada saya.
Dia bilang harus membawa dua baju ganti setiap kali ke kampus, padahal dulu sama sekali tidak pernah.
Loh kok bisa?

Ceritanya begini...
Setiap kali ke kampus, teman saya ini selalu menggunakan bus.
Nah di dalam ini terasa panaaaassss sekali.

Sampai bajunya basah kuyup.

Teman saya ini termasuk tipe orang yang sangat mementingkan penampilan, makanya dia tidak ingin orang di sekelilingnya mencium bau yang tidak sedap dikarenakan hal tersebut.

Good solution menurut saya.
Nah ketika sore tiba dan teman saya itu ingin pulang kerumah,
ujan sering turun dan setibanya dirumah bajunya pasti basah kuyup.
Ya... begitulah kira-kira gambaran kota Jakarta sekarang.
Semuanya jadi tidak menentu.
Tidak teratur.

Yang sering saya baca di majalah atau internet, katanya hal ini disebabkan karena global warming.

Sebenarnya global warming ini binatang/tumbuh-tumbuhan jenis apa sih?

Pendeknya begini, global warming itu adalah meningkatnya suhu bumi.

Penyebabnya?
Karena manusia.
Maksud saya penyebabnya karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dengan buminya.

Saya tidak ingin mencontohkan orang lain, contohnya saya saja.

Saya sering memakai sterofoam yang sering dipergunakan sebagai piring di supermarket2.

Saya juga sering membeli air mineral, padahal kita bisa membawa air dari rumah sendiri dengan botol yang sama.
Padahal dengan cara ini harusnya lebih murah dan efisien, ya?

Sebab lain, penggunaan kantong plastik yang berlebihan.

Penggunaan hairspray.
Ketika membaca sebuah majalah wanita, saya jadi kaget dengan dampak luas global warming ini.
Diperkirakan tahun 2030-an nanti kota Bangkok akan tenggelam.
Opo meneh tho?
Saya juga tidak mengerti.

Sebagai orang awam, saya tidak terlalu peduli dengan artikel itu.

Saya pikir toh jarak Bangkok dan Jakarta jauh, tidak seperti Jakarta-Bandung.
Tapi saya salah 100%.

Dalam artikel lain, karena pengaruh global warming ini diprediksi Jakarta Utara juga akan menjadi pantai alias akan bernasib sama seperti Bangkok dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Saya jadi takut...
Apalagi ketika tadi saya membaca google, katanya global warming ini nggak bisa dicegah.
Ketakutan saya jadi bertambah 1000%.

Well, see?

Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat.

Yang ada di dalam otak saya, minimal saya harus memperlambat dampaknya.

Caranya?
Dengan mengurangi pemakaian sterofoam, membawa kantong plastik sendiri atau beralih menggunakan tas belanja dari kain, penghematan listrik, dan masih banyak lagi cara untuk memperlambat dampak global warming ini.

Terdengar sulit?

Ah, tidak juga jika ada kemauan dari diri kita sendiri.

Tidak ingin kan tidak punya tempat tinggal lagi?

Kampung Halaman




Setiap orang pasti punya kampung halaman, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan.
Ada saja cerita dibaliknya. Suka cita, haru, kangen, bangga...
Begitu pula saya.
Saya adalah putra daerah yang merantau ke Jakarta karena pendidikan.
Saya rasa setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya pasti akan bermimpi meraih cita-citanya di Jakarta.
Tidak munafik, kehidupan yang lebih layaklah yang menjadi alasan utama mengapa seseorang datang jauh-jauh dari kampung halamannya dan rela meninggalkan keluarga tercinta disana.
Saya pribadi dulunya menganggap Jakarta itu suatu kota yang sangat megah.
Isinya hanya orang menengah ke atas yang kemana-mana naik kendaraan mewah.
Dandanan seperti artis yang biasa saya lihat di sinetron.
Ingin belanja tinggal ngeluarin kartu, nggak pakai uang.
Well... setelah belajar lebih lanjut di fakultas ekonomi, ternyata mereka ngutang dengan cara lebih keren.
Makan direstoran mewah...
Setelah beberapa tahun tinggal di ibukota negara ini, saya baru tahu ternyata itu semua hanya sebagian wajah kota Jakarta saja.
Kehidupan Jakarta yang selama ini saya bayangkan ternyata hanya 40%-nya.
Sisanya, kehidupan berat yang harus dilalui.
Saya melihat banyak orang yang harus tinggal dibawah jembatan.
Pinggiran rel kereta api.
Rumahnya hanya terbuat dari triplek dan kardus, bahkan ada yang tidur di emperan toko.
Jangankan untuk hidup layak, untuk makan tiga kali sehari pun mereka sudah sangat bersyukur.
See?
Padahal di kampung halaman saya, saya tidak bisa menemukan hal sekontras itu.
Di kampung halaman saya semuanya serba standar.
Tidak ada kesenjangan sosial dan ekonomi seperti itu.
Almarhumah nenek saya pernah bilang,
Semewah-merahnya dirumah orang pasti lebih kerasan di rumah sendiri.
Dan kata-kata beliau benar sekali.
Saya merasakan hal itu sekarang.
Kerap kali saya merasa rindu kepada kampung halaman saya.
Saya rindu orang tua saya.
Saya rindu adik-adik saya.
Saya rindu keluarga saya.
Saya rindu kamar tidur saya.
Saya rindu suasana kekeluargaan antar tetangga.
Saya rindu masakan khasnya.
Saya rindu suasana hijau dan birunya pantai.
Saya rindu setiap jengkal jalan yang ada disana.
Di Jakarta saya tidak menemukan itu.
Tidak ada kekeluargaan antara tetangga.
Bahkan tetangga disebelah rumah pun belum tentu kita mengenalnya.
Jangankan berinteraksi dengan tetangga, terkadang dengan orang tua/anak sendiri pun mereka jarang sekali bisa bertemu.
Alasannya kesibukan dan kemacetan.
Saya tahu, setelah membaca tulisan saya ini anda yang mempunyai kampung halaman seperti saya pasti menjadi teringat kembali dan ingin pulang.
Ya... saya tahu itu.
Itu adalah hal yang wajar.

Rabu, 09 April 2008

Cita-cita


Saya punya sahabat.
Kami selalu satu sekolah mulai dari TK sampai SMA.

Saya selalu merasa cocok dengannya.

Tapi ketika menamatkan SMA, kami memilih jalur yang berbeda. Saya meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dia menjadi perwira polisi.

Ini merupakan cita-citanya sejak masih kecil.
Sejak TK.

Saya jadi ingat kisah kami waktu masih kanak-kanak dulu.

Suatu saat ibu guru menanyakan apa cita-cita kami jika besar nanti.

Saya menjawab jadi dokter.
Jawaban standar anak kecil.

Sedangkan teman saya menjawab polisi.

Right... Nggak ada masalah sampai disitu.
Naik ke Sekolah Dasar, kami kembali ditanyakan mengenai cita-cita ini.
Saya menjawab jadi pengacara.
Nggak konsisten.

Sahabat saya tetap dengan cita-cita lamanya.

Masalah baru akan dimulai.

Menginjak SMP, guru Bahasa Indonesia kembali menanyakan hal ini.

Saya menjawab ingin menjadi wartawan.

Ketika itu saya sedang giat-giatnya mengurusi majalah dinding sekolah.

Sahabat saya ini tetap konsisten dengan pilihannya sejak masih kanak-kanak.
Ketika SMA dan ijazah kelulusan sudah ditangan,
kami saling bertanya, akan jadi apa kami nantinya.
Saya menjawab, ingin menjadi akuntan yang sekarang membawa saya kuliah di fakultas ekonomi.

Sahabat saya memilih mengikuti tes seleksi perwira polisi nasional.

Ajaibnya, sahabat saya ini adalah peserta wanita satu-satunya yang lolos mewakili daerah saya.
Sementara saya sudah sangat pusing dengan kuliah saya yang saya rasa sangat berat, sahabat saya itu sangat enjoy menjalani pilihannya.
Saya kagum kepada sahabat saya sendiri.

Apakah ke-kosistensiannya yang membawa di berhasil meraih cita-citanya?

Saya pernah membaca artikel di sebuah majalah.

Memang ada penelitian yang menjawab pertanyaan saya itu.
76% orang yang bercita-cita konsisten seperti sahabat saya, akan memperoleh keberhasilan.
Saya menyesal, mengapa sejak dulu saya tidak konsisten menjawab pertanyaan-pertanyaan guru saya.
Jika saja saya dulu bercita-cita jadi presiden dan sampai sekarang tetap konsisten, bukan tidak mungkin saya akan menduduki posisi tersebut di tahun 2040-an nanti.

Who knows?

eksploitasi anak


Setiap kali akan ke kampus, saya pasti melewati jembatan penyeberangan, sebut saja jembatan penyeberangan X.
Banyak sekali aktivitas yang terjadi disana.

Mulai dari hanya sekedar numpang lewat sampat transaksi jual beli.

Disana banyak juga pengemis.

Mulai dari yang sudah uzur, usia dewasa hingga anak kecil.

Dari yang sehat walafiat, pura-pura sakit hingga benar-benar sakit,
semua tumpah ruah disana. Itu wajar untuk saya.
Dikota sebesar Jakarta, pengemis adalah sebuah profesi.

Tak heran jika banyak orang terkena virus M.
Malas...

Dengan modal tampang memelas dan penampilan kucel,
mereka bisa mendapatkan uang hingga puluhan ribu sehari.
Sebenarnya mereka masih cukup kuat untuk mendapatkan uang dengan cara yang wajar.

Tanpa harus menadahkan tangan kepada orang lain.

It's the real in our beloved country.

atau mungkin saking sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia,
dan keterbatasan pengalaman kerja, mereka memilih bekerja sebagai peminta-minta.

Diantara sekian banyak pengemis itu, ada seorang ibu muda.
Usianya sekitar 20-an tahun.

Diusia seperti seharusnya masih sangat produktif dalam mencari nafkah.
Kondisi fisiknya masih sangat kuat, terlihat dari badannya yang cukup subur untuk ukuran seorang pengemis.
Sambil menengadahkan tangan kiri dan tangan kanannya memegang bayinya,
ia meminta uang receh dari orang-orang yang hilir mudik di jembatan itu.
Oke, saya tidak mau ambil pusing dengan si ibu.
Yang menjadi fokus saya adalah si anak.

Si anak masih sangat kecil.
Umurnya masih dalam hitungan hari.
Kulitnya masih merah.
Anak ini menjadi sarana sang ibu untuk mendapatkan uang.

Si anak kepanasan.

Mukanya memerah.
Si anak menghirup udara beracun kota Jakarta.

Sungguh sangat miris sekali.
Ini adalah salah satu bentuk eksploitasi anak.
Yah... saya hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa berbuat banyak.
Saya hanya bisa memberikan sedikit dari yang saya punya.

Bukan untuk si ibu, tapi untuk anaknya.

Selasa, 08 April 2008

jatuh cinta


Ada perubahan drastis yang terjadi pada sahabat saya beberapa hari ini.
Dia jadi sering senyum-senyum sendiri.
Dia jadi suka dandan.
Dia jadi suka dengerin lagu-lagu mellow.
Katanya dia lagi jatuh cinta.

Awalnya reaksi saya biasa saja.
Toh jatuh cinta itu alami.
Semua orang akan dan pasti pernah merasakannya.

Tapi yang bikin saya pusing tujuh keliling,
sahabat saya ini jatuh cinta sama sepupunya sendiri. Waktu saya tanya, kenapa harus jatuh cinta sama sepupunya, sahabat saya ini menjawab, "Emang saya bisa ngatur hidup saya sendiri, kalo bisa mah saya mau dilahirkan sebagai paris hilton yang cantik dan kaya raya"
Memang benar apa yang sahabat saya itu katakan. Ketika masih berada di dalam kandungan ibu kita, kita nggak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, menjadi apa dan akan seperti apa nantinya. Awalnya saya sempat ingin menyuruh sahabat saya itu untuk menjahui sepupunya tapi saya berubah pikiran.
Biarkan saja cinta itu tetap ada.

Biarkan cinta itu Tumbuh subur dan berkembang.

Biarkan dia merasakan indahnya cinta.
Dan jika kembali ada pilihan, cinta itu untuk mekar atau pun layu.

Biarkan sahabat saya itu kembali memilih.

Hanya waktu yang akan bisa menentukannya.

Murid kurang ajar

Udah lama nggak akses internet,
bukannya seneng,
saya malah kaget.
Salah satu guru saya masuk rumah sakit
lebih parahnya lagi,
saya baru tahu malam ini, padahal sakitnya sudah setengah tahunan.
Saya jadi ingat zaman masih jadi murid putih abu-abu,
guru ini terkenal dengan ke-killerannya
lebih tepatnya ke-tegasannya.
Nggak ada kata telat dalam kamus beliau
sekalinya telat, harus berani terima konsekuensi
cuci WC...
Saya pernah kena sekali,
itu membuat saya sakit hati sekali kepada beliau.
karena pas hari naas itu ada ulangan hafalan ayat pendek
udah semalaman saya hafalkan, ketika masuk kelas saya malah diusir.
Tapi malam ini, waktu melihat foto sang guru,
saya jadi terharu, mata saya berkaca-kaca.
Selang infus tertancap di kedua hidungnya.
Tubuhnya yang dulu gagah, sekarang lemah dan hanya bisa tertidur di pembaringan
Mungkin saya bukan murid yang baik
Guru saya sakit, saya baru tahu
Padahal selama tiga tahun, beliau mengajar saya, memberikan ilmunya.
Terlebih beliau mengajar agama
yang notabene sangat saya perlukan sebagai dasar menghadapi dunia yang sudah sangat edan ini
Saya bertekad,
kelak ketika pulang kampung dan entah kapan (mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi
saya ingin menjenguknya
dan ingin minta maaf telah menjadi murid yang kurang ajar.
Hanya Allah yang bisa membalas segala kebaikan beliau.
Semoga beliau cepat sembuh.

orang 'aneh'...

Saya punya dosen baru.
Orangnya lucu tapi 'straight' banget.
Waktu pertama kali masuk kelasnya,
Beliau cerita, dulu pernah jadi akuntan di Singapura.
Gaji dalam itungan ratusan dolar belum termasuk tunjangan tetek bengek.
Dapet rumah dinas. Bo'il dinas. Duit pensiunan.
Pendidikan anak ampe S2 di luar negri.
Singkat kata nggak bakalan susah deh ampe tua.
Tapi nasib berkata lain...
Suatu saat beliau di sodorin 'amplop'.
Bukan amplop sembarang amplop,
Amplop ini 'ajaib'
Amplop ini yang banyak bikin pejabat kita sekarang diperiksa asal usul kekayaannya.
Amplop ini boleh diterima dengan syarat, laporan keuangan sebuah perusahaan di sana harus 'dipercantik'
Dosen saya ini menolak dengan tegas.
Beliau lebih memilih berhenti dengan terhormat dari pekerjaan mapannya,
Beliau lebih rela kehilangan semua kesenangan yang sudah di dapat selama puluhan tahun
Alasannya cuma satu:
Beliau ingin melawan arus.
Kata beliau, "Untuk apa jadi orang yang searus dengan orang lain jika pada akhirnya hanya akan membuat kita sengsara"
Kata-kata itu sekarang jadi kata mutiara saya.
Hal ini juga yang membawanya mengasingkan diri ke Prancis untuk mempelajari tingkah laku manusia.
Mengapa manusia lebih memilih melakukan hal buruk yang sebenarnya hanya membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidupnya?
Setelah itu beliau lebih memilih menjadi dosen
Alasannya: Beliau ingin mendidik para calon akuntan agar tidak gampang terseret arus
Coba renungkan, berapa banyak orang yang yang berpendirian seperti beliau?
Mungkin bisa dihitung dengan jari
Kata beliau lagi, "Di dunia ini mudah sekali mencari orang pandai, tapi mencari orang pandai dan jujur, itu sangat langka. Seperti mencari jarum dalam samudra."
Bayangkan saja,
Jika selama ini kita sering mendengar "jarum dalam jerami", sekarang lebih ekstrim lagi,
"Jarum dalam samudra"
Dari beliau saya banyak belajar,
Kita nggak perlu terlihat sama dengan orang lain
Jadi orang 'aneh' nggak ada salahnya
Dan yang lebih penting lagi, Jadi orang itu nggak dosa.
tapi satu hal yang harus saya catat.
Saya tidak perlu berharap mendapat nilai sempurna dari mata kuliah yang beliau pegang.






Story, Reading, Writing And All About Jurnalism