Setiap orang pasti punya kampung halaman, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan.
Ada saja cerita dibaliknya. Suka cita, haru, kangen, bangga...
Begitu pula saya.
Saya adalah putra daerah yang merantau ke Jakarta karena pendidikan.
Saya rasa setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya pasti akan bermimpi meraih cita-citanya di Jakarta.
Tidak munafik, kehidupan yang lebih layaklah yang menjadi alasan utama mengapa seseorang datang jauh-jauh dari kampung halamannya dan rela meninggalkan keluarga tercinta disana.
Saya pribadi dulunya menganggap Jakarta itu suatu kota yang sangat megah.
Isinya hanya orang menengah ke atas yang kemana-mana naik kendaraan mewah.
Dandanan seperti artis yang biasa saya lihat di sinetron.
Ingin belanja tinggal ngeluarin kartu, nggak pakai uang.
Well... setelah belajar lebih lanjut di fakultas ekonomi, ternyata mereka ngutang dengan cara lebih keren.
Makan direstoran mewah...
Setelah beberapa tahun tinggal di ibukota negara ini, saya baru tahu ternyata itu semua hanya sebagian wajah kota Jakarta saja.
Kehidupan Jakarta yang selama ini saya bayangkan ternyata hanya 40%-nya.
Sisanya, kehidupan berat yang harus dilalui.
Saya melihat banyak orang yang harus tinggal dibawah jembatan.
Pinggiran rel kereta api.
Rumahnya hanya terbuat dari triplek dan kardus, bahkan ada yang tidur di emperan toko.
Jangankan untuk hidup layak, untuk makan tiga kali sehari pun mereka sudah sangat bersyukur.
See?
Padahal di kampung halaman saya, saya tidak bisa menemukan hal sekontras itu.
Di kampung halaman saya semuanya serba standar.
Tidak ada kesenjangan sosial dan ekonomi seperti itu.
Almarhumah nenek saya pernah bilang,
Semewah-merahnya dirumah orang pasti lebih kerasan di rumah sendiri.
Dan kata-kata beliau benar sekali.
Saya merasakan hal itu sekarang.
Kerap kali saya merasa rindu kepada kampung halaman saya.
Saya rindu orang tua saya.
Saya rindu adik-adik saya.
Saya rindu keluarga saya.
Saya rindu kamar tidur saya.
Saya rindu suasana kekeluargaan antar tetangga.
Saya rindu masakan khasnya.
Saya rindu suasana hijau dan birunya pantai.
Saya rindu setiap jengkal jalan yang ada disana.
Di Jakarta saya tidak menemukan itu.
Tidak ada kekeluargaan antara tetangga.
Bahkan tetangga disebelah rumah pun belum tentu kita mengenalnya.
Jangankan berinteraksi dengan tetangga, terkadang dengan orang tua/anak sendiri pun mereka jarang sekali bisa bertemu.
Alasannya kesibukan dan kemacetan.
Saya tahu, setelah membaca tulisan saya ini anda yang mempunyai kampung halaman seperti saya pasti menjadi teringat kembali dan ingin pulang.
Ya... saya tahu itu.
Itu adalah hal yang wajar.
Jumat, 11 April 2008
Kampung Halaman
Label:
curhat saya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Story, Reading, Writing And All About Jurnalism

Tidak ada komentar:
Posting Komentar