Rabu, 09 April 2008

eksploitasi anak


Setiap kali akan ke kampus, saya pasti melewati jembatan penyeberangan, sebut saja jembatan penyeberangan X.
Banyak sekali aktivitas yang terjadi disana.

Mulai dari hanya sekedar numpang lewat sampat transaksi jual beli.

Disana banyak juga pengemis.

Mulai dari yang sudah uzur, usia dewasa hingga anak kecil.

Dari yang sehat walafiat, pura-pura sakit hingga benar-benar sakit,
semua tumpah ruah disana. Itu wajar untuk saya.
Dikota sebesar Jakarta, pengemis adalah sebuah profesi.

Tak heran jika banyak orang terkena virus M.
Malas...

Dengan modal tampang memelas dan penampilan kucel,
mereka bisa mendapatkan uang hingga puluhan ribu sehari.
Sebenarnya mereka masih cukup kuat untuk mendapatkan uang dengan cara yang wajar.

Tanpa harus menadahkan tangan kepada orang lain.

It's the real in our beloved country.

atau mungkin saking sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia,
dan keterbatasan pengalaman kerja, mereka memilih bekerja sebagai peminta-minta.

Diantara sekian banyak pengemis itu, ada seorang ibu muda.
Usianya sekitar 20-an tahun.

Diusia seperti seharusnya masih sangat produktif dalam mencari nafkah.
Kondisi fisiknya masih sangat kuat, terlihat dari badannya yang cukup subur untuk ukuran seorang pengemis.
Sambil menengadahkan tangan kiri dan tangan kanannya memegang bayinya,
ia meminta uang receh dari orang-orang yang hilir mudik di jembatan itu.
Oke, saya tidak mau ambil pusing dengan si ibu.
Yang menjadi fokus saya adalah si anak.

Si anak masih sangat kecil.
Umurnya masih dalam hitungan hari.
Kulitnya masih merah.
Anak ini menjadi sarana sang ibu untuk mendapatkan uang.

Si anak kepanasan.

Mukanya memerah.
Si anak menghirup udara beracun kota Jakarta.

Sungguh sangat miris sekali.
Ini adalah salah satu bentuk eksploitasi anak.
Yah... saya hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa berbuat banyak.
Saya hanya bisa memberikan sedikit dari yang saya punya.

Bukan untuk si ibu, tapi untuk anaknya.

Selasa, 08 April 2008

jatuh cinta


Ada perubahan drastis yang terjadi pada sahabat saya beberapa hari ini.
Dia jadi sering senyum-senyum sendiri.
Dia jadi suka dandan.
Dia jadi suka dengerin lagu-lagu mellow.
Katanya dia lagi jatuh cinta.

Awalnya reaksi saya biasa saja.
Toh jatuh cinta itu alami.
Semua orang akan dan pasti pernah merasakannya.

Tapi yang bikin saya pusing tujuh keliling,
sahabat saya ini jatuh cinta sama sepupunya sendiri. Waktu saya tanya, kenapa harus jatuh cinta sama sepupunya, sahabat saya ini menjawab, "Emang saya bisa ngatur hidup saya sendiri, kalo bisa mah saya mau dilahirkan sebagai paris hilton yang cantik dan kaya raya"
Memang benar apa yang sahabat saya itu katakan. Ketika masih berada di dalam kandungan ibu kita, kita nggak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, menjadi apa dan akan seperti apa nantinya. Awalnya saya sempat ingin menyuruh sahabat saya itu untuk menjahui sepupunya tapi saya berubah pikiran.
Biarkan saja cinta itu tetap ada.

Biarkan cinta itu Tumbuh subur dan berkembang.

Biarkan dia merasakan indahnya cinta.
Dan jika kembali ada pilihan, cinta itu untuk mekar atau pun layu.

Biarkan sahabat saya itu kembali memilih.

Hanya waktu yang akan bisa menentukannya.

Murid kurang ajar

Udah lama nggak akses internet,
bukannya seneng,
saya malah kaget.
Salah satu guru saya masuk rumah sakit
lebih parahnya lagi,
saya baru tahu malam ini, padahal sakitnya sudah setengah tahunan.
Saya jadi ingat zaman masih jadi murid putih abu-abu,
guru ini terkenal dengan ke-killerannya
lebih tepatnya ke-tegasannya.
Nggak ada kata telat dalam kamus beliau
sekalinya telat, harus berani terima konsekuensi
cuci WC...
Saya pernah kena sekali,
itu membuat saya sakit hati sekali kepada beliau.
karena pas hari naas itu ada ulangan hafalan ayat pendek
udah semalaman saya hafalkan, ketika masuk kelas saya malah diusir.
Tapi malam ini, waktu melihat foto sang guru,
saya jadi terharu, mata saya berkaca-kaca.
Selang infus tertancap di kedua hidungnya.
Tubuhnya yang dulu gagah, sekarang lemah dan hanya bisa tertidur di pembaringan
Mungkin saya bukan murid yang baik
Guru saya sakit, saya baru tahu
Padahal selama tiga tahun, beliau mengajar saya, memberikan ilmunya.
Terlebih beliau mengajar agama
yang notabene sangat saya perlukan sebagai dasar menghadapi dunia yang sudah sangat edan ini
Saya bertekad,
kelak ketika pulang kampung dan entah kapan (mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi
saya ingin menjenguknya
dan ingin minta maaf telah menjadi murid yang kurang ajar.
Hanya Allah yang bisa membalas segala kebaikan beliau.
Semoga beliau cepat sembuh.

orang 'aneh'...

Saya punya dosen baru.
Orangnya lucu tapi 'straight' banget.
Waktu pertama kali masuk kelasnya,
Beliau cerita, dulu pernah jadi akuntan di Singapura.
Gaji dalam itungan ratusan dolar belum termasuk tunjangan tetek bengek.
Dapet rumah dinas. Bo'il dinas. Duit pensiunan.
Pendidikan anak ampe S2 di luar negri.
Singkat kata nggak bakalan susah deh ampe tua.
Tapi nasib berkata lain...
Suatu saat beliau di sodorin 'amplop'.
Bukan amplop sembarang amplop,
Amplop ini 'ajaib'
Amplop ini yang banyak bikin pejabat kita sekarang diperiksa asal usul kekayaannya.
Amplop ini boleh diterima dengan syarat, laporan keuangan sebuah perusahaan di sana harus 'dipercantik'
Dosen saya ini menolak dengan tegas.
Beliau lebih memilih berhenti dengan terhormat dari pekerjaan mapannya,
Beliau lebih rela kehilangan semua kesenangan yang sudah di dapat selama puluhan tahun
Alasannya cuma satu:
Beliau ingin melawan arus.
Kata beliau, "Untuk apa jadi orang yang searus dengan orang lain jika pada akhirnya hanya akan membuat kita sengsara"
Kata-kata itu sekarang jadi kata mutiara saya.
Hal ini juga yang membawanya mengasingkan diri ke Prancis untuk mempelajari tingkah laku manusia.
Mengapa manusia lebih memilih melakukan hal buruk yang sebenarnya hanya membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidupnya?
Setelah itu beliau lebih memilih menjadi dosen
Alasannya: Beliau ingin mendidik para calon akuntan agar tidak gampang terseret arus
Coba renungkan, berapa banyak orang yang yang berpendirian seperti beliau?
Mungkin bisa dihitung dengan jari
Kata beliau lagi, "Di dunia ini mudah sekali mencari orang pandai, tapi mencari orang pandai dan jujur, itu sangat langka. Seperti mencari jarum dalam samudra."
Bayangkan saja,
Jika selama ini kita sering mendengar "jarum dalam jerami", sekarang lebih ekstrim lagi,
"Jarum dalam samudra"
Dari beliau saya banyak belajar,
Kita nggak perlu terlihat sama dengan orang lain
Jadi orang 'aneh' nggak ada salahnya
Dan yang lebih penting lagi, Jadi orang itu nggak dosa.
tapi satu hal yang harus saya catat.
Saya tidak perlu berharap mendapat nilai sempurna dari mata kuliah yang beliau pegang.






Story, Reading, Writing And All About Jurnalism